Niat puasa Ramadhan
Lafal niat puasa Ramadhan yang paling umum dibaca di Indonesia adalah Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i fardhi syahri Ramadhana hadzihis sanati lillahi ta’ala, dibaca pada malam hari sebelum fajar. Di bawah ini teks Arabnya, latinnya, artinya, dan yang jarang disertakan situs lain: dari mana persisnya setiap teks itu berasal.
Niat puasa Ramadhan harian
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i fardhi syahri Ramadhana hadzihis sanati lillahi ta’ala.
Aku berniat puasa esok hari untuk menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala.
Dikutip dari: MUI (mui.or.id) dan NU Online (islam.nu.or.id). NU Online menisbatkan susunan ini kepada kitab Minhajut Thalibin dan Perukunan Melayu.
Niat puasa sebulan penuh
نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيْعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هٰذِهِ السَّنَةِ فَرْضًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma jami’i syahri Ramadhani hadzihis sanati fardhan lillahi ta’ala.
Aku berniat puasa sebulan penuh Ramadhan tahun ini sebagai kewajiban karena Allah Ta’ala.
Dikutip dari: MUI (mui.or.id). MUI menyebut Syekh Sulaiman al-Bujairimi dalam Hasyiyatul Iqna’ juz 2 dan Yusuf al-Qaradhawi dalam Fiqhus Shiyam hlm. 84.
Lafal pendek
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ مِنْ رَمَضَانَ
Nawaitu shauma ghadin min Ramadhana.
Aku berniat puasa esok hari pada bulan Ramadhan.
Dikutip dari: NU Online (islam.nu.or.id). NU Online menisbatkan lafal ini kepada kitab I’anatut Thalibin.
Apa yang tertulis di kitab aslinya
Hampir semua situs mencetak lafal niat tanpa menyebut kitabnya. Berikut teks aslinya, disalin apa adanya dari I’anatut Thalibin karya al-Bakri ad-Dimyathi, juz 2 halaman 253, bab puasa:
(وأكملها) أي النية: (نويت صوم غد عن أداء فرض رمضان) بالجر لإضافته لما بعده (هذه السنة لله تعالى) لصحة النية حينئذ اتفاقا
I’anatut Thalibin ‘ala Halli Alfazh Fathil Mu’in, juz 2 hlm. 253, Maktabah Syamilah
Perhatikan satu hal yang mudah dicek sendiri: kitab itu menulis فرض رمضان (fardhi Ramadhana), sedangkan lafal yang lazim dicetak di Indonesia menambahkan kata شهر (syahri), sehingga menjadi fardhi syahri Ramadhana. Keduanya beredar luas dan keduanya dinisbatkan kepada kitab-kitab Syafi’iyah oleh sumber di atas. Kami hanya melaporkan perbedaan lafalnya, tanpa menilai mana yang lebih utama.
Niat itu di dalam hati
Para ulama sepakat bahwa niat adalah amalan hati. Yang mereka perselisihkan adalah apakah melafalkannya dengan lisan dianjurkan atau tidak, dan perbedaan itu perlu disampaikan apa adanya:
- NU Online menulis bahwa niat puasa wajib berada di dalam hati pada malam hari, dan pelafalannya dengan lisan sangat dianjurkan karena membantu hati menghadirkan niat.
- IslamQA no. 37643 menyatakan sebaliknya bahwa melafalkan niat tidak disyariatkan dan cukup dengan tekad di dalam hati, merujuk kepada Ibnu Taimiyah dalam al-Ikhtiyarat hlm. 191 dan Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah 10/246.
Halaman ini tidak mengeluarkan fatwa dan tidak memilih satu pendapat di atas pendapat lain. Untuk keputusan yang mengikat amal Anda, rujuk ulama atau lembaga fatwa yang Anda ikuti.
Waktu membaca niat
Waktunya terbentang sejak terbenam matahari sampai sebelum terbit fajar, jadi umumnya dibaca seusai tarawih atau ketika sahur. Tentang apakah niat harus diperbarui setiap malam, keempat mazhab tidak seragam. Menurut rangkuman Islamonweb: mazhab Maliki memandang satu niat pada malam pertama sudah mencukupi untuk sebulan penuh; mazhab Syafi’i mensyaratkan niat diperbarui setiap malam; mazhab Hanafi membedakan puasa yang waktunya tertentu seperti Ramadhan dari puasa lainnya; sedangkan dalam mazhab Hanbali ada riwayat pendapat Imam Ahmad bahwa satu niat di malam pertama mencukupi. Karena itulah banyak orang di Indonesia membaca keduanya: niat sebulan penuh pada malam pertama, lalu niat harian setiap malam.
Dari mana teks di halaman ini diambil
Setiap lafal di atas disalin persis dari sumber berikut, yang diperiksa langsung pada 2 September 2026. Tidak ada teks doa di halaman ini yang kami susun sendiri.
- NU Online, “Ini Lafal Niat Puasa Ramadhan” Enam lafal niat yang diterima, masing-masing dengan nama kitab rujukannya (Minhajut Thalibin, Perukunan Melayu, Asnal Mathalib, Hasyiyatul Jamal, Irsyadul Anam, I’anatut Thalibin).
- MUI, “Niat Puasa Ramadhan, Tata Cara dan Bacaan Lengkap” Lafal harian dan lafal sebulan penuh beserta tulisan latin sebagaimana lazim dicetak di Indonesia.
- I’anatut Thalibin, al-Bakri ad-Dimyathi, juz 2 hlm. 253, Bab Puasa (Maktabah Syamilah) Teks kitab aslinya, yang menyebut lafal terlengkap tanpa kata “syahri”.
- IslamQA no. 37643 Pendapat bahwa niat adalah amalan hati dan melafalkannya tidak disyariatkan, dengan rujukan al-Ikhtiyarat hlm. 191 dan Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah 10/246.
- Islamonweb, “Niyyah Practices in Ramadan Fasting” Rangkuman perbedaan empat mazhab tentang memperbarui niat setiap malam.
Catatan kejujuran sumber: kami juga berusaha mengutip laman resmi Kementerian Agama RI, namun kemenag.go.id maupun bimasislam.kemenag.go.id tidak dapat dijangkau dari dua jaringan berbeda saat halaman ini disusun (koneksi ditolak, bukan halaman tidak ditemukan). Karena kami tidak dapat memverifikasinya sendiri, halaman ini tidak mengatasnamakan Kemenag sama sekali. Terjemahan Indonesia di atas mengikuti sumber yang dikutip; penjelasan di luar kutipan adalah tulisan redaksi Quran Habit, bukan kutipan.
Selanjutnya
Ramadhan: tanggal, jadwal harian, dan kota-kota · Doa-doa dari Al-Quran · Baca Al-Quran dengan terjemahan Indonesia
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah puasa sah jika lupa membaca niat dengan lisan?
Sumber yang dikutip di halaman ini sepakat bahwa niat adalah amalan hati, dan melafalkannya dengan lisan bukan rukun. NU Online menyebutnya sangat dianjurkan sebagai penolong hati, sedangkan IslamQA no. 37643 menilainya tidak disyariatkan. Keduanya sama-sama menempatkan niat itu sendiri di dalam hati. Untuk kasus pribadi Anda, tanyakan kepada ulama rujukan Anda.
Mengapa lafal niatnya berbeda-beda di setiap sumber?
Karena memang ada beberapa susunan yang diterima. NU Online sendiri mencantumkan enam lafal sekaligus, masing-masing dengan kitab rujukannya, mulai dari yang terpanjang sampai yang hanya berbunyi Nawaitu shauma Ramadhana. Perbedaan harakat pada kata Ramadhana atau Ramadhani juga muncul karena perbedaan susunan kalimatnya, dan itu dibahas oleh kitab-kitab yang mereka sebut.
Kapan batas akhir membaca niat?
Sebelum terbit fajar, yaitu sebelum masuk waktu Subuh. Untuk jadwal imsak dan buka di kota Anda, lihat halaman Ramadhan dan jadwal shalat.
Apa lafal niat puasa Ramadhan untuk sebulan penuh?
Teks Arab, latin, dan artinya ada di bagian niat puasa sebulan penuh di atas. MUI mencantumkan lafal itu dan menyebut Syekh Sulaiman al-Bujairimi dalam Hasyiyatul Iqna’ juz 2 serta Yusuf al-Qaradhawi dalam Fiqhus Shiyam hlm. 84 sebagai rujukannya.
Apa arti lafal niat puasa Ramadhan harian?
“Aku berniat puasa esok hari untuk menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala.” Terjemahan itu mengikuti lafal yang dicantumkan MUI dan NU Online, yang keduanya dikutip di bagian atas halaman ini beserta tautannya.
Apakah niat puasa harus diperbarui setiap malam?
Keempat mazhab tidak seragam, dan halaman ini hanya melaporkannya. Menurut rangkuman Islamonweb: mazhab Maliki memandang satu niat pada malam pertama sudah mencukupi untuk sebulan penuh, mazhab Syafi’i mensyaratkan niat diperbarui setiap malam, mazhab Hanafi membedakan puasa yang waktunya tertentu seperti Ramadhan dari puasa lainnya, dan dalam mazhab Hanbali ada riwayat pendapat Imam Ahmad bahwa satu niat di malam pertama mencukupi.
Mengapa kitab aslinya menulis “fardhi Ramadhana” tanpa kata “syahri”?
Karena begitulah teks yang tercetak. I’anatut Thalibin juz 2 hlm. 253 menulis فرض رمضان, sedangkan lafal yang lazim beredar di Indonesia menambahkan شهر. Keduanya beredar luas dan keduanya dinisbatkan kepada kitab-kitab Syafi’iyah oleh sumber yang dikutip di halaman ini. Kami melaporkan perbedaannya tanpa menilai mana yang lebih utama.
Adakah lafal niat yang lebih pendek?
Ada. Nawaitu shauma ghadin min Ramadhana, dengan teks Arab dan artinya di bagian lafal pendek di atas. NU Online menisbatkan lafal itu kepada kitab I’anatut Thalibin, dan artikelnya memuat enam lafal sekaligus, masing-masing dengan nama kitab rujukannya.
Apakah halaman ini mengutip Kementerian Agama?
Tidak. Kami berusaha mengutip laman resmi Kemenag, namun kemenag.go.id maupun bimasislam.kemenag.go.id tidak dapat dijangkau dari dua jaringan berbeda saat halaman ini disusun, dan koneksinya ditolak, bukan halamannya tidak ditemukan. Karena tidak dapat kami verifikasi sendiri, halaman ini sama sekali tidak mengatasnamakan Kemenag.
Apakah halaman ini mengeluarkan fatwa?
Tidak. Halaman ini melaporkan apa yang dikatakan sumber yang disebut namanya, dan tidak memilih satu pendapat di atas pendapat lain. Untuk keputusan yang mengikat amal Anda, rujuk ulama atau lembaga fatwa yang Anda ikuti.